Opini

Catatan Kaki Untuk Sembilan Puluh Tahun Nahdlatul Ulama

90 Tahun Nahdlatul Ulama - AswajaOnline.com
Written by Muhammad Arief

Perjalanan NU dalam membidani kemerdekaan negeri ini tidak boleh dipandang sebelah mata. NU dengan santri sebagai plat form garda gerakannya mengobarkan semangat juang yang luar biasa dibya dan tak bisa dipandang sebelah mata dalam mengusir penjajahan dari Indonesia. NU sangat serius dalam memperjuangkan nilai-nilai kemerdekaan sejak kelahirannya pada 1926. Namun sanjungan terbaik bukanlah berupa pujian.

Penghargaan tertinggi –meminjam istilah Thomas Aquinas filsuf cum rohaniawan itu– bukanlah terletak pada seberapa tinggi kita memuji melainkan pada seberapa berani kita mengkritisi pihak yang kita puji. Maka dengan memeluk filosofi pujian tertinggi adalah kritikan itulah tulisan ini akan mencoba mengkritisi kiprah NU beberapa tahun belakangan ini.

Pertama, di bidang pendidikan. Betapapun bidang ini adalah bidang sentral yang “terlupakan”. Pendidikan sebagai isu besar seharusnya mendapatkan porsi perhatian yang lebih mengingat sebuah formula klise yang menyatakan bahwa jika mengingnkan sebuah perubahan maka bangunlah manusianya, membangun manusia tiada lain tiada bukan selain melalui jalan terjal pendidikan. Realitas di lapangan, NU sampai hari ini kurang —kalau tidak mau dikatakan sama sekali tidak— memperhatikan bidang yang satu ini. Indikatornya mudah di mana kita bisa menjumpai lembaga pendidikan yang berbasis NU komplit mulai dari TK sampai perguruan tinggi? yang ada hari ini adalah kepingan lembaga serta instansi pendidikan yang cenderung dikelola di atas pelbagai payung, tidak satu atap dan kurang tertata secara manejerial.

Tak perlulah kita membanding-bandingkan dengan oramas-ormas tua lainnya di Indonesia ini jika kita tidak mau malu sendiri. Sementara tetangga kita sudah melesat jauh dengan pendidikan sebagai prioritas utamanya hari ini NU masih tertatih-tatih seakan bingung harus memulai dari mana memperbaiki bidang ini. Secara sumber daya manusia, NU sesungguhnya mempunyai aset yang sangat melimpah. Betapa dengan hampir beranggotakan 76 juta jiwa lebih harusnya NU sudah mempunyai perguruan tinggi di seluruh tingkat wilayah di Indonesia.

Kedua, masalah kesehatan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa bidang ini juga sering menjadi sorotan masyarakat nahdliyyin di tingkatan grass-root. Mulai dari leletnya manajemen serta pelayanan sampai dengan kapan kira-kira gedung rumah sakit NU di tempatnya dibangun. Bagaimanapun juga bidang kesehatan merupakan kebutuhan hidup yang primer yang harus dipenuhi. Toh dalam rumusan kulliyatul khoms (lima pilar hukum Islam) aspek kesehatan ini masuk dan terintegrasi secara langsung dengan hifdzun nafs yakni terjaganya nyawa. Nyawa di sini tentu berarti kesehatan.

NU ke depan harus segera berbenah untuk memetakan problem apa yang menjadi kendala mendasar dalam memberikan pelayanan kesehatan pada warganya. Masalah infrastrukturkah, manajerialkah atau masalah yang lain? hal ini sangat penting dan mendesak mengingat sebagaimana dikatakan oleh Nur Kholik Ridlwan (2009) bahwa sejak hampir sepuluh tahun terakhir nyaris NU tak pernah “serius” mengurusi bidang kesehatan ini. Buktinya, banyak di pelbagai daerah terdapat tanah kosong dengan plang yang bertuliskan “tanah milik pengurus besar Nahdlatul Ulama akan segera dibangun rumah sakit”. Jika membaca plang itu ingatan kita melayang pada ulama sufi tactician dari timur tengah si Abu Nawas. Mungkin jika ia warga NU dengan mudahnya ia akan berseloroh “namanya juga akan…ya cuma akan, masalah dibangun atau ndak ya urusan nanti,..ini cuma akan…”.

Ketiga, tentang politik. Bidang ini memang sensitif dan cenderung tabu. Sampai hari ini secara konsepsi-idealis NU masih “mengimani” khittah NU 1926 yang dicetuskan di Situbondo yakni tentang larangan turun praktis ke ranah politik secara institusional, namun secara pribadi dipersilahkan. Secara teknis-pragmatis kenyataan di lapangan tak sepenuhnya bisa dilukiskan hitam di atas putih. Banyak penyelewengan-penyelewengan yang tentu ada yang bisa ditutup-tutupi tapi ada juga yang menjadi konsumsi publik.

Betapa masih segar di ingatan kita terkait masalah rangkap jabatan yang mendera beberapa pengurus teras NU baik di tingkat daerah maupun wilayah. Lemahnya sistem kontrol dari pengurus pusat turut memupuk syahwat “poligami jabatan” ini. Longgarnya sistem kontrol itulah yang membuka kran rangkap jabatan itu menjadi mewabah. Sampai hari ini belum pernah kita mendapati keputusan tegas NU akan komitmennya terhadap khittah 1926 terkait rangkap jabatan kadernya ini. Ketegasan itu bisa jadi lembek dan lentur seketika bahkan cenderung loyo oleh kepentingan-kepentingan sementara yang bersifat transaksional dan patron-klien. Kiamatlah ideologi kita tatkala suatu saat mendapati para petinggi NU merangkap jabatan semua. Mengapa? karena rangkap jabatan sama dengan meludahi komitmen serta konsensus leluhur-leluhur NU.

Meludahi komitmen itu sama dengan tidak menjaga tradisi. Padahal jargon NU adalah al-muhafadzatu ala al-qadimis shalih wal ahdzu bil jadidi al-ashlah. Formulanya menjaga tradisi serta mengembangkan inovasi. Pada etape pertama kehidupan, kita harus benar-benar mampu menjaga tradisi dulu agar terbentuk ideologi, jati diri serta karakter khas kita, baru kemudian kita mengembangkan langkah-langkah inovatif di separuh etape salanjutnya. Jika dalam menjaga tradisi saja kader NU masih banyak yang gagap lalu bagaimana dengan mengembangkan inovasi?.

Bahwa hal-hal yang dikemukakan di atas menyakitkan, itu pasti. Tapi lebih menyakitkan lagi tatkala kelemahan ini kita pelihara. Ibarat luka jika dibiarkan ia akan menjelma infeksi. Infeksi juga tak mustahil akan menyebabkan operasi, betapa ngerinya jika itu terjadi, operasi ideologi. Momentum 90 tahun NU ditambah dengan sumebyarnya anak-anak muda dan di kepengurusan terbaru kali ini adalah momen penting untuk berbenah. Sebab tanpa semangat berbenah, semua usaha akan sia-sia belaka. Wallahu a’lam bisshawab

@Farizalniezar

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

Leave a Comment