Artikel

Mengungkap Kisah Di Balik Taubatnya Para Ekstremis Islam

Mengungkap Kisah Taubatnya Para Ekstremis Islam
Written by Muhammad Arief

Kisah, ASWAJAONLINE.COM – Ada kerancuan dalam melihat kecenderungan esktremisme selama ini. Biasanya pihak-pihak yang memiliki perhatian (concern) terhadap hal ini lebih terfokus kepada akibat yang ditimbulkan oleh ekstrimisme dan tidak peduli dengan penyebab atar akar dari tumbuhnya ekstremisme itu sendiri. Sehingga seringkali upaya-upaya penyelesaian itu tidak mendasar dan bahkan cenderung bersifat “pain killer” semata. Ibarat seseorang yang kanker dan kesakitan tapi diberikan sekedar advil atau panadol untuk meringankan sakitnya.

Sebuah penelitian yang diprakarsai oleh Suratno, salah seorang pengajar di Universitas Paramadina berhasil mengungkap kisah di balik pertobatan ekstremis-ekstremis Islam. Beliau menyebut bidang penelitiannya sebagai “antropologi tobat”. Hasil riset bisa memberi masukan dalam melakukan deradikalisasi. Dalam penelitiannya, Suratno melakukan wawancara mendalam dengan mantan-mantan ekstremis Islam di Indonesia. Mereka diantaranya adalah Nasir Abas Ali Imron dari Jamaah Islamiyah, Mataharitimoer dari Negara Islam Indonesia, dan Ja’far Thalib dari Laskar Jihad. Total ada 10 orang yang diwawancara.

Suratno menjelaskan, orang-orang yang mengikuti gerakan ekstrem adakalanya labil. Menurut antropolog Arnold van Gennep (1960) dan Victor Turner (1969), labilnya para ekstremis itu disebut “liminal”. Tahapan liminal sederhananya mirip dengan proses akil baligh manusia, proses ambigu antara anak dan dewasa dengan beragam perubahannya. Fase liminal bisa mengubah seorang ekstremis menjadi lebih ekstrem ataupun kemudian insaf. Suratno dalam penelitian yang digunakan sebagai disertasi doktoralnya di Frankfurt am Main, Jerman, meneliti alasan di balik pertobatan para ekstremis. Antropologi tobat dengan demikian bisa didefinisikan secara sederhana sebagai sesuatu atau proses yang mendorong pertobatan.

Hasil penelitian mengungkap, proses masuknya seseorang dalam gerakan ekstrem dapat memengaruhi pertobatan. “Kalau awalnya dari ajakan teman misalnya, nanti dalam proses liminal ada ruang untuk tobat,” kata Suratno. Secara umum ada faktor pendorong dan penarik yang memicu seseorang untuk bertobat. Faktor pendorong misalnya ada ketidaksetujuan dengan pemimpin, kurang nyaman melihat tindakan brutal grup, dan perubahan ideologi.

Abas misalnya, terdorong untuk bertobat karena punya ketidaksetujuan dengan Abu Bakar Ba’asyir pimpinannya. Sementara Mataharitimoer terdorong bertobat karena faktor pemimpin dan perubahan lingkungan. Dalam arti, Soeharto yang saat itu menjadi “Fir’aun” jatuh. Ja’far Laskar Jihad yang diwawancara terdorong bertobat karena faktor fatwa. Di luar hal-hal yang penting itu, mantan-mantan ekstremis yang diwawancara juga bisa bertobat karena masalah personal, seperti kerinduan untuk memiliki kehidupan normal, kangen keluarga, keinginan punya anak, dan lainnya. “Psychological affection dan the power of love kadang dominan,” kata Suratno.

Beragam faktor pendorong dan penarik itu hanya salah satu yang menjadi penyebab pertobatan. Tepatnya, hanya faktor yang membuat seorang ekstremis memisahkan diri dari grupnya. Untuk sampai tahap bertobat yang sebenarnya, proses deradikalisasi yang dilakukan oleh pihak lain berperan. Deradikalisasi nyatanya tak harus dilakukan dengan pemaksaan tetapi bisa dengan cara yang persuasif. “Abas potensi individu untuk bertobat karena kecewa dari Ba’asyir itu disengagement-nya. Tapi deradikalisasinya karena tersentuh setelah diinterogasi Kolonel Bekto Prasetyo yang Katolik tapi lemah lembut,” ungkap Suratno.

Suratno mengungkapkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa riset pemahaman pada individu atau grup ekstremis penting dalam mengupayakan deradikalisasi. Selama ini proses deradikalisasi banyak dianggap proyek saja. “Tidak berbasis riset dan tidak melihat kondisi dan kebutuhan pelaku ekstremis,” jelasnya. Hal lain yang bisa menjadi masukan adalah adanya pendekatan psikologis pada ekstremis. “Ekstremis setelah dipenjara atau kembali ke masyarakat harus ada pendekatan psikologis dan cinta. Deradikalisasi program dan lainnya itu next step. Selama ini yang ada terbalik, ” imbuh Suratno yang berhasil meraih cum laude dalam disertasinya.

Hasil penelitian juga mengungkap hal yang perlu dilakukan untuk mencegah seseorang masuk dalam gerakan ekstrem. Pendidikan untuk berpikir kritis penting. Rata-rata ekstremis berpikiran sempit. Wawasan agama sejak kecil juga penting. “New born Muslim ketika dewasa kalau ketemu ekstremis bahaya,” kata Suratno. Tantangannya kemudian adalah bagaimana pendidikan mampu mengajak murid berpikir kritis. Untuk pendidikan agama, tantangannya adalah mengajak murid belajar agama dengan kritis, bukan sekadar mengajari beribadah.

Sumber: sains.kompas.com

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

Leave a Comment