Opini

MENKOPOLHUKAM Luhut Binsar Panjaitan: NU Lahir Untuk Indonesia

MENKOPOLHUKAM, NU Lahir Untuk Indonesia - ASWAJAONLINE.COM
Written by Muhammad Arief

Jombang, ASWAJAONLINE.COM – Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Panjaitan bertemu dengan para kyai dan pengasuh Ponpes Bahrul Ulum di Jombang, Jawa Timur, Rabu (16/3). Silaturahmi Menkopolhukam dengan para kyai NU tersebut untuk mengantisipasi perkembangan gerakan radikal, karena NU merupakan pilar dari persatuan bangsa Indonesia.

“Andai tidak ada NU mungkin Indonesia tidak ada”. Seperti itulah lebih kurang kata2 yg diucapkan Menkopolhukam, Jend. TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ketika memberi pengarahan pada silaturrahim dengan ulama pesantren, Rabu, 16 Maret 2016, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Luhut yg beragama Kristen Protestan begitu mengagumi NU, terutama dalam perannya di dalam memperjuangkan & mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mata Luhut tampak berkaca2 ketika mengucap, “Di sini tempat lahir tokoh sentral Nahdlatul Ulama, K.H. Abd. Wahab Chasbullah, seorang yang memiliki jiwa visioner. Tak terbayangkan oleh kita bagaimana mungkin pada tahun 1924 beliau sudah mampu memotret masa depan bangsa dengan menciptakan lagu cinta tanah air”.

Perlu diketahui bahwa K.H. Abd. Wahab Chasbullah adalah pencipta lagu berbahasa Arab, “Hubbul Wathon”, yang kalau diterjemahkan menjadi: “Pusaka hati wahai tanah airku. Cintamu dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu. Bangkitlah hai bangsaku. Indonesia negeriku. Engkau panji martabatku. Siapa datang mengancammu. Kan binasa di bawah dulimu”.

Luhut juga tampak manggut2 ketika mendengar K.H. Abd. Mujib Imron, S.H. M.Hum., yang biasa disapa Gus Mujib, membacakan Pernyataan Ulama Pesantren dalam menyikapi perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara. Luhut sangat serius ketika Gus Mujib mengatakan bahwa ulama NU sangat paham kewajiban bela negara, “Induk organisasi kami adalah PBNU. “P” artinya Pancasila. “B” Bhineka Tunggal Ika. “N” Negara Kesatuan Republik Indonesia. “U” Undang-Undang Dasar 1945″.

Keseriusan Luhut mungkin karena selama ini yang beliau dengar bahwa kepanjangan dari singkatan PBNU hanyalah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Luhut kemudian memeluk Gus Mujib saat beliau selesai membacakan pernyataan.

Semoga NU semakin jaya dan sanggup menjadi tiang penyangga bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sumber: KBAswaja

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

Leave a Comment