Artikel

Nasehat Imam Syafi’i Agar Berhijrah

Nasehat Imam Syafi'i Agar Berhijrah
Written by Muhammad Arief

Nasehat, ASWAJAONLINE.COM – Hijrah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah Al-Mu-karramah ke Madinah Al-Munawwarah berlang­sung 1432 tahun yang lalu. Meskipun peristiwa besar itu terjadi lebih dari 14 abad silam, pengaruhnya masih terus berlangsung dalam kehidupan kaum muslimin. Hijrah adalah sunnatullah dalam kehidupan para nabi dan rasul, seperti Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad SAW

Oleh sebab itu, mereka melakukannya. Dengan ber­­hijrah, mereka bisa menegakkan agama Allah. Dengan berhijrah, para pengikut setia mereka dapat keluar dan bebas mer­deka dari sistem Jahiliyah dan penin­dasan yang dilakukan para penguasa zhalim terhadap mereka.

Selain itu hijrah atau merantau bisa bertujuan untuk mencari ilmu, mencari kehidupan yang lebih baik, mengembangkan dakwah, menyambung silaturahim dan memperluas relasi. Mengenai hijrah, merantau, atau safar, Imam Syafi’i rohimahullah menuliskan sebuah puisi nasehat mengenai pentingnya berhijrah. Berikut adalah petikan puisi beliau.

مَا فِي المُقَامِ لِذِيْ عَقْلٍ وَذِيْ أَدَبٍ مِنْ رَاحَةٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِب
سَافِرْ تَجِدْ عِوَضاً عَمَّنْ تُفَارِقُهُ وَانْصَبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ
إِنِّي رَأَيْتُ وُقُوْفَ المَاءَ يُفْسِدُهُ
إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ
وَالأُسْدُ لَوْلَا فِرَاقُ الأَرْضِ مَا افْتَرَسَتْ وَالسَّهْمُ لَوْلَا فِرَاقُ القَوْسِ لَمْ يُصِبْ
وَالشَّمْسُ لَوْ وَقَفَتْ فِي الفُلْكِ دَائِمَةً لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ
وَالتُرْبُ كَالتُرْبِ مُلْقًى فِي أَمَاكِنِهِ وَالعُوْدُ فِي أَرْضِهِ نَوْعٌ مِنْ الحَطَبِ
فَإِنْ تَغَرَّبَ هَذَا عَزَّ مَطْلُبُهُ وَإِنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كَالذَّهَبِ

Merantaulah
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang).

Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku‬ melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa‬ jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akan kena sasaran.

‪‎Jika‬ matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

‪Biji‬ emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.#

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika biji memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

Merantaulah…

Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing (di negeri orang)

مراجع ديوان الإمام الشافعي شركة الأرقم بن أبي الأرقم بيروت ص: 39
Sumber: Diwan al-Imam asy-Syafi’i. Cet. Syirkah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Beirut. Hal. 39

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

Leave a Comment