Artikel Opini

RMI, Asosiasi Pondok Pesantren di Indonesia Meminta Buwas Memberikan Klarifikasi

RMI, Asosiasi Pondok Pesantren di Indonesia Meminta Buwas Memberikan Klarifikasi - AswajaOnline.com
Written by Muhammad Arief

Jakarta, ASWAJAONLINE.COM – Ketua Robithah Ma’had Islami Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (RMI PBNU) KH. Abdul Gafar Rozin mengatakan pernyataan Kepala BNN Budi Waseso (Buwas) mengenai santri pakai narkoba untuk alasan dikir masih belum jelas. Seharusnya, kata dia, Buwas dapat menunjukkan oknum santri mana yang menggunakan barang haram tersebut.

“Oleh karena itu supaya tidak bias, tisak melahirkan curiga, saya kira BNN dapat melakukan klarifikasi. Mohon pak Buwas mengklarifikasi siapa santri yang pakai narkoba. Pesantren manakah itu yang diindikasikan,” ujar pria yang biasa di panggil gus Rozin kepada TeropongSenayan di Jakarta, Senin (7/3/2016).

Gus Rozin mengungkapkan statemen Buwas yang disampaikannya di sejumlah media pemberitaan tersebut telah membuat banyak pihak resah. Pasalnya, kata dia, santri awampun pasti paham bahwa narkoba hukumnya haram. “Saya kira saya harus menyampaikan. Majlis dzikir itu adalah majelis yang sangat mulya. Orang shalat itu pake wudu supaya sholatnya sah. Orang berdikir walaupun tidak wajib sangat disarankan dalam keadaan suci. Jadi, pernyataan bahwa narkoba untuk dipake dzikir, saya kira itu menyakiti banyak orang. Dari dzikir persolan yang snagat mulya tapi untuk mencapai kesana masa menggunakan barang yang diharamkan,” ungkapnya.

Gus Rozin mengaku dirinya turut membaca berita yang menerangkan pernyataan Buwas mengenai santri pemakai narkoba untuk dzikir. Lebih dari itu, kata dia, bahkan disebutkan juga ada kiai yang malah ikut-ikutan mengkonsumsi obat terlarang itu. “Saya kira pak Buwas harus terbuka. Tidak masalah jika harus ditunjuk pesantren mana. Pesantren X misalnya teriditifikasi narkoba. Kalo iya, yang bersangkutan dapat memperbaiki diri atau kalo nggak pasti melakukan klarifikasi. Tapi kalo dikategorikan secara general narkoba masuk ke pesantren baik dilakukan gini atau itu, saya kira itu menimbulkan kegelisahan,” ucapnya. (Icl)

Sumber: Teropong Senayan

Sementara itu, Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyyah (RMI) yang merupakan asosiasi Pondok Pesantren di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang terdiri lebih dari 23.000 pesantren di seluruh Indonesia memberikan tanggapan terhadap isu yang sedang berkembang. Berikut tanggapan RMI:

  1. Dzikir itu ibadah yang sakral bagi pesantren, biasanya dilakukan dalam keadaan suci walaupun tidak wajib.
  2. Tidak mungkin dzikir dilakukan dengan mengkonsumsi barang haram.
    Sulit untuk dipercaya ada kyai bersama santri secara sengaja menkonsumsi narkoba, terlebih untuk berdzikir.
  3. RMI menghargai perhatian BNN terhadap pesantren, namun akan lebih baik lagi jika menunjukkan langsung nama pesantren dan kyai yang terindikasi narkoba.
  4. Tidak ada satupun institusi yang imun terhadap ancaman narkoba, bahkan lembaga negara sekalipun. Meskipun demikian diyakini bahwa pesantren masih yang terbesih di antara lembaga pendidikan lain.
  5. Oleh karena itu, penyebutan yang eksplisit oleh BNN selain membantu pesantren meningkatkan kewaspadaan juga akan menghindari kekkhawatiran dan kecurigaan yang tidak perlu terhadap pesantren.

 

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

Leave a Comment