Hikmah

Inspirasi Dari Seorang Guru Madrasah di Papua Yang Menempuh Perjalanan 115 KM Setiap Hari

Inspirasi Dari Seorang Guru Madrasah di Papua Yang Menempuh Perjalanan 115 KM Setiap Hari - AswajaOnline.com
Written by Muhammad Arief

Papua, AswajaOnline.com – Ketika ditanya tentang hobi, Drs Sumarno menjawab, olah raga. Mengapa suka olah raga? Karena ia butuh stamina lebih. Jarak MTs induk dengan MTs filial yang dikelolanya sejauh 115 KM. Setiap hari ia pulang-pergi. 4 jam lebih ia duduk di kendaraan setiap hari. Ada satu lagi MTs filial yang jaraknya lebih jauh lagi, 600 KM. Sebulan sekali ia naik pesawat dan tinggal 2-3 hari di sana. Kata Pak Sumarno, kalau kita bekerja dengan senang hati dan ikhlas agar bisa bermanfaat bagi orang lain, maka semua yang diakukan akan bernilai ibadah.

Ada cerita menarik, mengapa Sumarno akhirnya memilih mengajar dan mengabdi di madrasah. Awalnya ia menjadi guru honorer di SMA Yapis Biak. Lalu ia mencoba ikut tes guru PNS Kementerian Agama. “Saya pernah bermimpi melihat langit bintang hanya satu. Setelah masuk pegawai, saya baru tahu Kemenag itu logonya (Kemenag) ada bintang satu,” katanya.

Pada saat pelaksaan tes, hari Kamis, ternyata ia tidak bisa ikut. Namun memang nasib sudah ditentukan dari sananya. Ternyata tes ditunda karena suatu sebab. “Seandainya tes tersebut dilaksanakan hari Kamis, saya tidak ikut tes. Berarti saya tidak menjadi PNS di Kemenag,” katanya. Mimpi melihat satu bintang di langit ternyata merupakan isyarat. Dan ia akhirnya resmi menjadi pegawai Kemenag. Saat itu ia tinggal di Biak, sekitar 500 KM dari Kota Jayapura. Tes dilaksanakan di Jayapura pada hari Sabtu. “Saya ikut tes. Alhamdulillah saya diterima di MTs Negeri Nimboran tahun 2003,” katanya.

Sumarno dilahirkan di Pematangsiantar Sumatra Utara, 28 September 1964. Pada tahun 1985 ia datang ke Papua (dulu Irian Jaya). Ia kuliah di Universitas Negeri Cenderawasih. “Saya datang ke Papua tahun 1985. Kebetulan lewat PMDK (penelusuran minat dan kemampuan) di Universitas Negeri Cenderawasih. Alhamdulillah dapat beasiswa dari semester tiga sampai selesai,” katanya.

Jiwa perantau membuatnya betah tinggal di mana saja. Namun ada yang paling membuatnya betah tinggal dan mengabdi sebagai guru di Papua. Guru matmatika di Papua sangat langka. Di lingkungan Dinas Penddikan guru matematika juga langka, di madrasah apalagi. “Di Kabupaten Jayapura, PNS guru matematika yang dari Kemenag hanya saya saja,” ujar ayah dua anak ini.

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

Leave a Comment