Opini

Islam Rahmatan Lil Alamin Adalah Keindahan Bukan Kekerasan

Islam Rahmatan Lil Alamin Adalah Keindahan Bukan Kekerasan - ASWAJAONLINE.COM
Written by Muhammad Arief

ASWAJAONLINE.COM – Dakwah, yang berasal dari kata da’a-yad’u–da’wan yang berarti menyeru atau mengajak, merupakan kegiatan mengajak manusia ke jalan Allah subhanahu wata’ala untuk mengerjakan kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan buruk agar mereka memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Dari definisi ini, memang dakwah mempunyai potensi untuk dilakukan dengan cara kekerasan, khusunya, dalam kaitan dengan dakwah untuk mencegah perbuatan buruk atau kemungkaran.

Dakwah mencegah kemungkaran yang ditempuh dengan cara kekerasan juga sering didasarkan pada sebuah hadits: “Barang siapa melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tangan, apa bila tidak mampu cegahlah dengan lisan, dan apa bila tidak mampu cegahlah dengan hati, dan ini adalah selemah-lemahnya iman”. Dalam kaitan mencegah kemungkaran, mereka yang sering berdakwah dengan kekerasan dan pengrusakan merasa mampu melakukannya dengan menggunakan tangan atau kekuatan, dan mereka juga tidak ingin dianggap sebagai orang yang lemah imannya, sehingga jalan merubah kemungkaran dengan kekuatan tangan tidak dapat mereka redam. Dan seakan-akan, dakwah dengan cara kekerasan mendapatkan legitimasi dari hadist tersebut.

Namun dalam sejarah dakwah Islam di Indonesia, dakwah dengan kekerasan tersebut hampir tidak ada rujukannya. Keberhasilan dakwah Islam di Jawa, misalnya, hampir tidak ditemukan adanya pertumpahan darah. Islam yang disebarkan oleh Wali Songo dapat diterima dengan suka rela oleh masyarakat Jawa karena metode dakwah yang mereka gunakan bukan dengan cara angkat pedang atau kekerasan, melainkan dengan cara lembut dan penuh kedamaian.

Metode ini merupakan metode yang diambil dari Al-Quran Surat an-Nahl ayat 125: “Hendaklah engkau ajak orang ke jalan Tuhanmu dengan Hikmah (kebijaksanaan) dan dengan petunjuk-petunjuk yang baik serta ajaklah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yang sebaik-baiknya”.

Dengan berdasarkan ayat di atas, Wali Songo tidak langsung menentang kepercayaan masyarakat Jawa yang salah melainkan melakukan pendekatan dengan penuh hikmah dan menunjukan keindahan serta ketinggian akhlak yang luhur ala Rosulillah shollallahu ‘alaihi wasallam. Ketinggian akhlak Islami yang mereka tonjolkan di antaranya adalah kesamaan derajat manusia dihadapan Allah subhanahu wata’ala karena pada masa Hindu-Budha dikenal dengan kasta-kasta Brahmana, Kesatria, Waisya, dan Sudra. Dari keempat kasta tersebut, kasta Sudra adalah kasta yang paling rendah dan sering dijadikan objek penindasan oleh kasta-kasta yang lebih tinggi.

Maka, ketika Wali Songo menjelaskan kedudukan manusia dalam Islam, para kaum Sudra banyak yang tertarik, karena Islam mengajarkan bahwa manusia itu sama derajatnya dan tidak dibeda-bedakan. Di hadapan Allah swt. semua manusia sama dan yang paling mulia di antara mereka adalah mereka yang paling takwa kepada-Nya. Orang yang bertakwa sekalipun dari kasta Sudra, bisa jadi lebih mulia dibandingkan mereka yang berkasta Kesatria. Mendengar keterangan tersebut, mereka yang berasal dari kasta Sudra dan Waisya merasa lega, mereka merasa dibela dan dikembalikan haknya sebagai manusia utuh, sehingga wajar kalau mereka berbondong-bondong masuk Islam dengan suka cita tanpa adanya paksaan.

Kisah dakwah Wali Songo di atas adalah salah satu contoh dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin. Karena sesuai dengan arti etimologisnya, Islam berarti “damai” dan rahmatan lil ‘alamin berarti “kasih sayang bagi semesta alam”, maka dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin yang berarti dakwah dengan menghadirkan Islam yang mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi semua umat manusia di muka bumi, implementasi yang tepat adalah seperti apa yang dilakukan oleh Wali Songo tersebut. Yakni berdakwah dengan kedamaiaan, bukan dengan kekerasan dan pengrusakan.

Kemudian, dakwah Islam rahmatan rahmatan lil ‘alamin ala Wali Songo ini diadopsi oleh para kiai bermadzhab ahlussunnah wal jamaah di Indonesia. Mereka mengimplementasikan dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin berdasarkan pada basis pemikiran ahlussunnah waljama’ah. Pemikiran ini diterjemahkan lewat pendekatan tawassuth dan i’tidal. Tawassuth (garis tengah) adalah cara menampilkan agama yang kontekstual. Sedang i’tidal (lurus) adalah bentuk kognitifnya. Jadi, tawassuth menjelaskan posisi, sedang i’tidal adalah akurasi dan konsistensi. Penggabungan tawassuth dan i’tidal dapat didefinisikan sebagai pengertian Islam yang tepat, yaitu mengambil posisi di tengah tetapi jalannya lurus. Sehingga tidak heran kalau cara dakwah ala walisongo selalu mengedepankan aspek rahmatan lil ‘alamin dengan menggunakan cara santun dan damai.

Oleh karena itu, membumikan dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin menjadi sebuah keharusan, sehingga Islam yang identik dengan kekerasan dan pengrusakan dapat segera dihapuskan, dan sembari memulihkan kembali wajah Islam yang ramah dan penuh kedamaian.

#IslamRahmatanLilAlamin #Akhlak #WaliSongo #AhlussunnahWalJamaah #AswajaOnline

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

1 Comment

Leave a Comment