Opini

Nabi Difitnah, Pun Juga Ulama Sebagai Penerus Risalahnya

Aswaja Online - Ulama Penerus Para Nabi
Written by Muhammad Arief

Ketika Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari menulis “Tanbihat al waajibat” dan beliau sebarluaskan kitab ini dikalangan pesantren, Hadratusy Syaikh dipanggil oleh Abahnya, Kiyai Asy’ari untuk menghadap karena ada hal yang mau ditabayuni

“Hasyim anakku, saya mendengar engkau menulis buku yang katanya isinya mengharamkan tardisi maulid Nabi saw”. Tanya Kiyai Asy’ari kepada beliau mengawali tabayyun tersebut.

Seperti kebiasaan Hadratusy Syaikh, beliau tidak langsung menjawab, namun diam sejenak sambil memberi kesempatan abahnya untuk melanjutkan kalimatnya. Ini beliau lakukan agar beliau tidak reaktif dan karenanya nanti melukai hati orang yang beliau cintai.

“Saya sendiri belum membaca kitab itu, namun orang-orang sedang ramai membahasnya”. Tambah Kiyai Asy’ari.

“Nuwun sewu Abah, bukan megharamkan tradisi grebeg maulid yang saya maksud. Namun tercampurnya tradisi mungkar dalam perayaan maulid itu yang saya haramkan”. Demikian Kiyai Hasyim memulai jawabannya.

“Maksudnya?” tanya Kiyai Asy’ari penasaran.

“Nggih Abah, bagaimana saya mengharamkan maulid, lha wong sampai saat ini, Tebuireng masih mengajarkan madah-madah yang biasa dibaca dalam perayaan maulid seperti Maulid Burdahnya Imam Al Bushiri, Maulid Ad Diba’i dan Maulid Syaraful Anam karya Imam Abdurrahman Ad Diba’i Asy Syaibani Az Zubaidi, Maulid Al Buthy karya Imam Abdurraouf al buthy, Maulid Simtud Durar karya Habib Ali bin Muhammad al Habsyi, maulid Barzanzi karya Syaikh Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al Barzanji al Madani dan lain-lain”. Jawab Kiyai Hasyim panjang lebar.

“Lantas kenapa mereka menuduhmu anti maulid?”. Kiyai Asy’ari makin penasaran.

“Yang saya maksud dengan tradisi grebeg maulid yang haram itu jika diikuti dengan tayub (tarian jawa) yang campur baur antara laki dan wanita tanpa batas, bahkan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri tayub ini kemudian diikuti dengan saweran dan menenggak minuman keras. Mereka menganggap ini tradisi dengan kedok maulidan. Ini namanya kemungkaran dibungkus tradisi maulidan”. Jawab Sang Penakluk Badai menenangkan abahnya, Kiyai Asy’ari.

Dialog ini jauh sebelum Nahdhatul Ulama lahir. Hingga kelak ketika Tebuireng makin berkibar dan Nahdhatul ulama memiliki cabang dimana-mana, fitnah kepada Sang Kiyai pun masih terus terjadi. Kali ini bahkan dari sesama tokoh bangsa.

“Mohon maaf Kiyai, setelah saya amati perkembangan NU dan pemikiran Kiyai akhir-akhir ini, kalau tidak salah maksud telah ada perubahan signifikan pada diri kiyai”. Tanya HOS Cokroaminoto dengan serius dan nada kecewa.

“Apa yang Kang Mas Kaji maksudken?” Hadratusy Syaikh balik bertanya tanpa ekpresi kesal sedikitpun karena HOS Cokroaminoto adalah teman diskusi yang baik.

Dengan tenang Sang Kiyai beranjak dari duduknya dan meraih sebuah Kitab dari rak bukunya yang penuh sesak dengan kitab-kitab kuning.

“Ini namanya kitab Bughyatul Murtasyidin Kang Mas karya Syaikh Hasan al Hadrami.
Di dalam kitab ini dijelaskan tiga model negara; darul harbi, darul islam dan darus sulhi. Dan saya merasakan saat ini, pemerintahan Hindia Belanda lebih mirip negara yang model ketiga, sehingga saya lebih mengikuti jalan politik sunni ala Imam Al Ghazali dan Al Mawardi yang fleksibel”.

“Namun kiyai, bukankah Kumpeni senang menindas rakyat kita hingga mereka menderita?” tanya HOS Cokroaminoto tidak kalah serius.

“Itu pokok lain Kang Mas, jalur perlawanan politik harus tetap kita lakukan, namun cara-cara frontal saat ini menurut saya tidaklah tepat karena tingkat kecerdasan rakyat kita masih sangat memprihatinkan”. Pungkas Kiyai Hasyim menutup diskusi sore itu.

Namun tak nyana dan tak dikira, sejak dialog itu beredarlah tuduhan dan fitnah menimpa Tebuireng dan Kiyai Hasyim.

“Oh ternyata, NU kuwi buatan Belanda tho?”. “NU itu dibuat oleh Belanda untuk melawan kaum modernis”. “Sontoloyo, ternyata NU kuwi antek Belanda tho”.
Dan suara-suara miring yang lain. Sesak dada Sang Kiyai, namun beliau tetap tabah. Efek dari fitnah ini tidak main-main, banyak perwakilan dan cabang NU yang menyatakan keluar dari jam’iyyah tersebut.

Dan jauh di Tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat serta jauh sebelum jam’iyyah NU berdiri, Sang Pencerahpun pernah dihujani fitnah bertubi-tubi hingga langgar tempat ia mengaji di robohkan dan dibakar oleh centeng-centeng Keraton yang salah faham dengan ajaran KH Ahmad Dahlan.
“Ajarane Dahlan kuwi mbedani tradisi”. “Ajarane kuwi kudu dilawan”. “Dahlan kuwi islame aneh”. Dan omongan lainnya yang berujung pada pembakaran Musholla Sang Pencerah Umat tersebut.

————- Hikmah dan Ibroh —————-
Saudaraku…
Jika Rasulullah saw menyatakan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi itu maksudnya bukan hanya dalam hal keilmuan, namun juga dalam hal menanggung derita dan ujian karena tugas mengemban risalah ilahiyyah. Jika para Nabi diuji, maka para ulama pun akan diuji. Jika para Nabi difitnah, maka pun para ulama akan difitnah. Jika banyak Nabi dibunuh oleh kaumnya, pun tidak sedikit ulama yang dibunuh di zamannya.

Maka ujian yang saat ini menimpa guru, kiyai dan ulama kita adalah sunatullah dalam dakwah dan sunatullah dalam iman. “Apakah manusia mengira, saat ia berucap kami beriman, lalu mereka tidak diuji?” (QS: Al Ankabut: 2).

Justru musuh-musuh Islam saat ini sedang kalap dan panik. Ibarat orang yang mau tenggelam, apapun ia raih untuk pegangan hingga ia lupa daratan.
Jika kemarin, banyak orang yang lupa bahwa biang kerok yang membuat gaduh negeri ini adalah si Penista itu, maka hari ini semua kembali tersadar bahwa musuh bangsa ini bukan ormas Islam, bukan FPI, bukan Habib Riziq bukan MUI yang kemarin sempat difitnah.

Hari ini tidak hanya FPI, Muhammadiyyah, bahkan juga NU bahkan juga seluruh bangsa ini harus sadar bahwa Penista inilah yang berpotensi memecah belah NKRI.

Maka, Tenanglah! Allah swt telah menyiapkan skenario terbaik untuk umat ini dan agamaNya…
Tunggu dan taati komando para ulama kita!

Cinta kami untuk jam’iyyah NU, Muhammadiyah dan seluruh umat Islam dan seluruh Bangsa Indonesia.

Sumber: Suhari Abu Fatih

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

Leave a Comment