Tokoh

KH Muhammad Shiddiq di Akhir Hayatnya

KH Muhammad Shiddiq di Akhir Hayatnya
Written by Muhammad Arief

ASWAJAONLINE.COM – Kiai Shiddiq lahir di Lasem, Jawa Tengah. Ia tercatat pernah mengaji di Pondok Pesantren Langitan, Sidoarjo, dan Bangkalan dengan Kiai Cholil. Setelah pengembaraan di sejumlah pesantren, Kiai Shiddiq membangun pesantren di Lasem dan kemudian hijrah ke Jember dan mendirikan pesantren juga di sini pada tahun 1884, saat Kiai Shiddiq masih muda, 30 tahun.

PEMAKAMAN TURBAN CONDRO

Kyai Shiddiq, wafat pada hari Ahad Pahing jam 17 40 tanggal 2 Romadlon 1533H (9 Desember 1934 M) pada usia +80 tahun. Saat jenazah, disemayamkan di ndalem Talangsari, datanglah 11 orang yang menawarkan tanahnva sebagai makam beliau. Sebelas orang itu antara lain: 1 . H. Ilyas, Gebang 2. Sadinatun, Gebang 3. Sa’id, Gebang 4. Riynah, Gebang 5. Samiroh, asal Bulu Tuban 6. Amir, asal Bulu Tuban 7. Sakiman, asal Bulu Tuban 8. KH. Yusuf, asal Bulu Tuban (mertua Kyai Shiddiq) 9. H. Anwar, Jatian Pakusari 10. H. Abdul Hamid, Rowo – Wirowongso. 11. H Samsul Arifin, Talangsari.

Namun agar adil maka akhirnva dilotre/diundi sebanyak 3 kali. Ternyata undian jatuh pada tanah H. Samsul Arifin di Turbah – Condro. Ribuan orang melayat Mbah Shiddiq menuju peristirahatannva di turbah Condro Jember. Hingga sekarang, banyak kaum muslimin ziarah di maqam Kyai Shiddiq. Para penziarah selalu membaca Al-qur’an. Tahlil dan bertawassul pada beliau. Kyai Shiddiq bagaikan “mutiara”, yang menurunkan banyak mutiara, menyinari kegelapan kota Jember.

GARIS KETURUNAN MBAH SIDDIQ

1. KH. Muhammad Shiddiq 2. bin Raden Pangeran Mas Sayyid KH. Abdullah (Lasem) 3. bin Raden Pangeran Sayyid KH. Sholeh (Raden Tirto Widjoyo, Lasem) 4. bin Sayyid KH. Asy’ari (Raden Pangeran Asyri, Lasem) 5. bin Sayyid KH. Muhammad Adzro’i (Raden Pangeran Bardla’i, Lasem) 6. bin Sayyid KH. Yusuf (Raden Yusuf, Pulandak Lasem) 7. bin Sayyid Abdurrachman (Mbah Sambu) 8. bin Sayyid Muhammad Hasyim (sunan Ngalogo) 9. bin Sayyid Abdurrachman Basyaiban (Mangkunegoro III) 10. bin Sayyid Abdullah 11. bin Sayyid Umar 12. bin Sayyid Muhammad 13. bin Sayyid Achmad 14. bin Sayyid Abu Bakar Basyiban 15. bin Sayyid Muhammad Asy’adullah 16. bin Sayyid Hasan At – Taromi 17. bin Sayyid Ali 18. bin Sayyid Muhammad Al Faqih Muqoddam 19. bin Sayyid Ali 20. bin Sayyid Muhammad Shohibi Mirbat (Zafar, Hadramaut) 21. bin Sayyid Ali Khaliq Qosim (Tarim, Hadramaut) 22. bin Sayyid Alwi (Bait Zubair, Hadramaut) 23. bin Sayyid Muhammad (Bait Zubair, Hadramaut) 24. bin Sayyid Alwi (Samal, Hadramaut) 25. bin Sayyid Abdullah Ubaidillah (Al – Ardli Burt Hadramaut) 26. bin Sayyid Ahmad Al – Muhajir (Basra Tarim, Hadramaut) 27. bin Sayyid ‘Isa An Naqib (Basrah, Iraq) 28. bin Sayyid Muhammad An – Naqib (Basrah, Iraq) 29. bin Sayyid Ali Al ‘uraidi (Madinah) 30. bin Sayyid Ja’far Ash – Shodiq (Madinah) 31. bin Sayyid Muhammad Al – baqier (Madinah) 32. bin Sayyid Ali Zainal Abidin (Madinah) 33. bin Sayyidina Husein 34. binti Fatimah Az Zahroh (Isteri Sayyidina Ali Al – Murtadlo) 35. bin Rosulullah Muhammad SAW

KH. ACHMAD SHIDDIQ DAN KERETA API

KH. Umar Junaidi bin Abdul Aziz seorang Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam di Desa Kemplang Brebes. KH. Junaid (panggilan KH. Umar Junaidi bin Abdul Aziz) adalah salah satu murid KH. Achmad Shiddiq Jember.

Suatu hari di tahun 1965-an, KH. Achmad Shiddiq diminta oleh sang murid, KH. Junaid, untuk mengisi acara di pesantren miliknya di Brebes. Sesuai dengan hari dan tanggal yang telah ditentukan, berangkatlah KH. Achmad Shiddiq dari stasiun Surabaya menuju stasiun Tegal.

Singkat cerita, sampailah KH. Achmad Shiddiq di stasiun Tegal dan di situ sudah ada penjemput yang siap mengantarkan sang kyai ke Pesantren milik KH. Junaid. Acara berlangsung sukses dan lancar.

Sebagai murid, KH. Junaid tentunya sangat menghormati dan gembira akan kedatangan sang Guru. Namun saat itu selain perasaan gembira, KH. Junaid juga merasa bersedih. Pasalnya ia bingung dirinya tak punya uang untuk sekedar membelikan tiket kereta. Ia baru ingat masih ada beberapa tumpuk gabah (padi) miliknya yang bisa dijual. Akhirnya dijuallah semua gabah miliknya tersebut dan berhasil mendapatkan uang yang cukup untuk membelikan tiket kepulangan KH. Achmad Shiddiq.

Sampailah KH. Achmad Shiddiq di stasiun Tegal dengan diantar oleh KH. Junaid dan tiga orang santrinya. Dalam penantian berangkatnya kereta api, KH. Achmad Shiddiq bertanya kepada KH. Junaid: “Junaid, kereta belum juga berangkat. Apa ada mushalla di dekat sini? Kayaknya sudah masuk waktu Dzuhur.”

“Ada Kyai, mari saya antar”, jawab KH. Junaid.

Sesampai di mushalla yang dituju, KH. Achmad Shiddiq mengeluarkan jubahnya yang khusus digunakan untuk shalat. KH. Achmad Shiddiq begitu berhati-hati dalam menjaga kebersihan dan kesucian. Terbukti saat beliau hendak berwudhu terlebih dahulu membersihkan sela-sela kuku jari jemarinya dengan waktu yang cukup lama.

Dengan pakaian berjubah putih dan kopyah yang dililti sorban putih, bersiaplah KH. Achmad Shiddiq melaksanakan shalat Dzuhur bersama KH. Junaid dan ketiga santrinya. Baru saja KH. Achmad Shiddiq bertakbir terdengarlah peluit masinis tanda kereta mau diberangkatkan. Hal itu sama sekali tidak membuat KH. Achmad Shiddiq panik, seakan beliau tidak mendengar peluit tersebut sama sekali. Beliau dengan khusyu’ terus melanjutkan shalatnya.

Akan tetapi yang merasa sangat panik dan bingung adalah KH. Junaid. Beliau ingin memberitahukan bahwa kereta sudah mau berangkat namun tak berani ia sampaikan kepada gururnya, KH. Achmad Shiddiq. Dengan rasa cemas yang sangat beliau bergumam pada dirinya: “Waah… alamat uang saya hilang!!! Bagaimana nanti saya bisa memulangkan Kyai Shiddiq?” Karena pada tahun itu aturannya adalah tiket yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan lagi.

Kereta pun akhirnya berjalan maju, maka bertambah paniklah KH. Junaid. Namun sesaat kemudian kepanikan itu hilang karena kereta tersebut tiba-tiba berjalan mundur kembali ke tempat semula. Diperiksalah kereta tersebut oleh para petugas dan tidak menemukan sedikit pun kerusakan.

Kereta kembali dinyalakan dan dapat berjalan maju siap untuk diberangkatkan. Kembali rasa panik KH. Junaid bertambah-tambah melihat kereta berangkat sedangkan KH. Achmad Shiddiq masih saja shalat dengan khusyu’nya.

Keanehan terjadi, ternyata kereta tadi lagi-lagi berjalan mundur kembali ke tempat semula. Kejadian itu sampai tiga kali terjadi dan setiap diperiksa oleh petugas tak ditemukan satu pun kerusakan.

Hampir satu jam lamanya, barulah KH. Achmad Shiddiq selesai dari shalatnya dan dilepaslah jubah dan sorban yang melilit di kopyahnya diganti dengan pakaian biasa. Diiringi KH. Junaid beserta tiga santrinya, KH. Achmad Shhiddiq menuju gerbong kereta. Setelah berpamitan dan berucapkan salam naiklah KH. Achmad Shiddiq ke dalam kereta.

Kereta bergerak maju tanda keberangkatkan. Dengan tenang dan senyuman khasnya, KH. Achmad Shiddiq melambaikan tangan kepada para pengantarnya tadi. Dan kereta pun berjalan lancar maju ke depan tidak bergerak mundur seperti sebelumnya.

Rasa cemas campur panik yang sedari tadi KH. Junaid rasakan berubah menjadi terkagum-kagum atas kejadian yang baru saja disaksikannya. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu pun menjadi bertanya-tanya siapakah gerangan orang hebat yang berkopyah putih tadi? Mereka meyakini bahwa orang tadi bukanlah orang sembarangan.

Akhirnya KH. Junaid pun menjelaskan kepada mereka bahwa beliau adalah KH. Achmad Shiddiq gurunya yang berasal dari Jember hendak pulang menuju Surabaya.

Demikianlah kisah ini saya dapatkan dari Pamanku Bapak Ridhwan murid daripada KH. Umar Junaidi bin Abdul Aziz Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Desa Kemplang Brebes. Semoga bermanfaat dan kita dapat mengambil hikmah dari kisah tersebut. Aamiin.

Sumber:
Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 11 Februari 2013
Buku Biografi Mbah Siddiq

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)