Berita

Pidato Presiden Jokowi Tentang Dukungan Indonesia Terhadap Kedaulatan Palestina Dalam KTT OKI 2016

Presiden Jokowi Dalam KTT OKI
Written by Muhammad Arief

JAKARTA, ASWAJAONLINE.COM – Minggu, 6 Maret, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Organisasi tersebut didirikan sebagai reaksi dari peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsa di Palestina pada 1969. Seolah kembali ke masa awal dibentuknya, konferensi ini memiliki makna khusus karena difokuskan untuk membahas isu Palestina agar segera menjadi negara yang berdaulat.

KTT ini disebut luar biasa karena tidak dijadwalkan dalam rangkaian pertemuan tahunan OKI. Indonesia diharapkan tidak hanya bisa mendorong isu ini agar menjadi perhatian publik internasional, tetapi bisa menyatukan kubu yang bertikai di dalam Palestina.

Terdapat 56 negara anggota, 4 negara pengamat, dan 4 pihak yang terlibat dalam proses perdamaian antara Palestina dengan Israel dalam KTT ini. Suriah yang sebelumnya ikut masuk ke dalam keanggotaan OKI, dibekukan keanggotaannya pada 2012. Sementara, empat negara pengamat yang ikut diundang adalah Bosnia Herzegovina, Afrika, Rusia, dan Thailand. Empat pihak yang terlibat di dalam proses perdamaian antara Palestina dengan Israel atau lazim disebut “kuartet” terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, Uni Eropa, dan PBB. Menurut Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri RI, Hasan Kleib, alasan ikut mengundang 4 negara pengamat dan 4 pihak kuartet, supaya memberikan peluang aspirasi negara anggota OKI didengar oleh PBB. “Sehingga bisa mendorong agar pembicaraan perdamaian Israel dan Palestina kembali masuk ke meja perundingan,” ujar Hasan dalam sebuah dialog di Kementerian Luar Negeri pada Jumat, 4 Maret. Sementara Israel, kata Hasan, tidak ikut diundang dalam KTT Luar Biasa OKI karena bukan merupakan anggota OKI, pengamat, atau kuartet.

KTT Luar Biasa OKI ini semula akan digelar di Maroko. Namun, ketika itu Maroko mengaku tidak siap, sehingga Palestina dan PBB menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan, salah satu fokus yang akan dibahas dalam pertemuan ini menyangkut status Yerusalem yang kini diklaim menjadi ibu kota Israel. Selain itu, kemungkinan akan menyentuh isu lain yang hingga saat ini menjadi batu sandungan dan belum selesai dibicarakan antara Israel dengan Palestina, yaitu perbatasan, pengungsi, pemukiman ilegal, keamanan, dan akses terhadap air bersih. Retno menegaskan, tidak akan ada isu lain selain fokus kepada kemerdekaan Palestina yang dibahas di forum ini. “Isu di luar dari Palestina akan dibahas saat digelar KTT reguler OKI di Istanbul, Turki, pada April mendatang,” kata Retno. Ia mengatakan publik internasional sudah mulai melupakan isu Palestina. Sementara sudah 60 tahun lamanya mereka belum bisa menjadi negara berdaulat, sebagian dari wilayah mereka masih diduduki oleh Israel. Alasan lain, menurut Retno, yang mendorong Indonesia untuk menerima tawaran PBB dan Palestina, karena situasi di Yerusalem yang semakin mengkhawatirkan. Warga Palestina yang ingin beribadah di komplek Masjid Al-Aqsa aksesnya semakin dibatasi.

Joko Widodo, Selaku Presiden Republik Indonesia membuka konferensi tersebut dengan membawa semangat tinggi dalam meningkatkan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sebagai sebuah negara yang berdaulat. Berikut adalah isi dari pidato Presiden:

PEMBUKAAN KONFERENSI TINGKAT TINGGI LUAR BIASA ORGANISASI KERJASAMA ISLAM (OKI) TENTANG PALESTINA DAN AL-QUDS AL-SHARIF

Pada tahun 1962, Bapak Bangsa Indonesia, Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, Bung Karno, menegaskan: “… selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.” Kami bangsa Indonesia konsisten dengan janji tersebut. Hari ini, Indonesia berdiri bersama dengan negara-negara OKI untuk meneruskan perjuangan yang belum selesai itu.

Suatu kehormatan bagi rakyat dan Pemerintah Indonesia untuk memenuhi himbauan Saudara kami, Presiden Mahmoud Abbas, dengan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tentang Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. Selamat datang di Indonesia Negeri indah yang mempunyai umat Islam terbesar di dunia, negeri demokratis nomer tiga di dunia, negeri yang segera membuka Konsulat Kehormatan di Palestina.

Yang Mulia Para Hadirin Sekalian,
Kita dan dunia prihatin dengan memburuknya situasi di Palestina sekarang. Banyak kebijakan sepihak dan ilegal, serta hukuman kolektif Israel semakin menyulitkan rakyat Palestina. Akses Umat Islam ke Masjid Al-Aqsa di Jerusalem juga dibatasi. Rakyat Palestina semakin tidak berdaya. Situasi kemanusiaan di wilayah-wilayah pendudukan semakin memburuk. Situasi tersebut harus bersama-sama kita hadapi, kita lawan. Untuk berjuang diperlukan kesatuan. Kita harus bersatu, Palestina harus bersatu, Palestina harus rekonsiliasi. Indonesia siap membantu proses rekonsiliasi ini.

Yang Mulia Para Hadirin Sekalian,
OKI dibentuk karena adanya kebutuhan mendukung perjuangan Palestina. Untuk itu, sesuai tema KTT United For A Just Solution, OKI harus menjadi bagian dari solusi, dan bukan bagian dari masalah. Apabila OKI tidak bisa menjadi bagian dari solusi Palestina, maka keberadaan OKI menjadi tidak relevan lagi. Sekali lagi menjadi tidak relevan lagi.

Yang Mulia Para Hadirin Sekalian,
Batas toleransi masyarakat internasional terhadap keberlanjutan pendudukan ilegal Israel atas wilayah Palestina sudah lama berakhir. Sebagai bagian dari masyarakat internasional, Israel harus segera menghentikan aktivitas dan kebijakan ilegalnya di wilayah pendudukan. Indonesia dan Dunia Islam siap melakukan langkah-langkah konkrit untuk terus mendesak Israel mengakhiri penjajahannya atas Palestina dan menghentikan kesewenang-wenangan di Al-Quds Al-Sharif. Dunia Islam membutuhkan dukungan dari PBB sesuai dengan peran dan tanggung jawabnya. Dunia Islam kembali menyerukan agar proses perdamaian jangan ditunda-tunda lagi untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina melalui “Solusi Dua Negara” (Two-State Solution).

Yang Mulia Para Hadirin Sekalian,
Saya ingin mendengar pandangan Yang Mulia dan para delegasi atas pandangan saya tersebut. KTT ini merupakan momentum penting bagi Dunia Islam merespon situasi yang dihadapi rakyat dan bangsa Palestina dewasa ini dengan langkah konkrit. Indonesia akan selalu berada di garis terdepan dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina. Perkenankan saya menyampaikan bahwa Indonesia telah menunjuk Nyonya Maha Abou Susheh selaku Konsul Kehormatan Republik Indonesia untuk Palestina, serta dalam waktu dekat akan meresmikan kantor Konsulat Kehormatan RI di Ramallah, Palestina.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ridha-Nya agar KTT ini menghasilkan kesepakatan nyata untuk segera merealisasikan hak-hak sah bangsa dan rakyat Palestina.

Terima kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 7 Maret 2016
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
JOKO WIDODO

About the author

Muhammad Arief

Ana al-faqiiru ilaa rohmati Robbih, santri Pondok Pesantren Nurul Hikmah yang selalu mengharapkan ampunan dan kasih sayangNya serta syafa'at baginda Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam. Pecinta para ulama ahlussunnah wal jama'ah dan para habaib. Yang mau sholawatan, yuk japri ya :-)

Leave a Comment